‘….hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.’ (Filipi 2 : 2-3)
Tenzing Norgay adalah seorang sherpa atau pemandu untuk ekspedisi pendakian gunung. Karena kehebatan dan kekuatannya, di kalangan para pendaki ia mendapat julukan “Harimau Salju”. Namanya menjadi terkenal ketika bersama Edmund Hillary mencatatkan diri sebagai penakluk Everest, puncak tertinggi di dunia (8.848 m). Sejarah mencatat bahwa pada 29 Mei 1953 itulah untuk pertama kalinya puncak Everest dapat ditaklukkan oleh manusia.
Sebagai sherpa, Tenzing sesungguhnya bisa berada di depan Hillary, namun mengapa bukan Tenzing Norgay yang pertama menjejakkan kaki? Pertanyaan menarik ini ditanyakan seorang reporter kepada Tenzing.
“Anda seorang sherpa, bukankah seharusnya Anda menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Gunung Everest?”
“Ya, benar sekali. Pada saat tinggal beberapa langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Hillary) untuk menjejakkan kakinya terlebih dahulu,” jawab Tenzing tegas.
“Namun, mengapa Anda melakukan itu?” tanya sang reporter lagi.
”Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya.”
Sebagai murid-murid Kristus, jemaat Filipi diajar untuk menjadi jemaat yang tahu diri. Jemaat diingatkan agar tidak mengutamakan kepentingan sendiri ataupun mencari pujian yang sia-sia. Mengapa? Setiap anggota jemaat adalah hamba yang harus bekerja untuk menomor satukan kepentingan Kristus dan kemuliaan Kristus.
Disadur dari : Renungan Harian Wasiat (Edisi bulan September 2009)
Tenzing Norgay adalah seorang sherpa atau pemandu untuk ekspedisi pendakian gunung. Karena kehebatan dan kekuatannya, di kalangan para pendaki ia mendapat julukan “Harimau Salju”. Namanya menjadi terkenal ketika bersama Edmund Hillary mencatatkan diri sebagai penakluk Everest, puncak tertinggi di dunia (8.848 m). Sejarah mencatat bahwa pada 29 Mei 1953 itulah untuk pertama kalinya puncak Everest dapat ditaklukkan oleh manusia.
Sebagai sherpa, Tenzing sesungguhnya bisa berada di depan Hillary, namun mengapa bukan Tenzing Norgay yang pertama menjejakkan kaki? Pertanyaan menarik ini ditanyakan seorang reporter kepada Tenzing.
“Anda seorang sherpa, bukankah seharusnya Anda menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Gunung Everest?”
“Ya, benar sekali. Pada saat tinggal beberapa langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Hillary) untuk menjejakkan kakinya terlebih dahulu,” jawab Tenzing tegas.
“Namun, mengapa Anda melakukan itu?” tanya sang reporter lagi.
”Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya.”
Sebagai murid-murid Kristus, jemaat Filipi diajar untuk menjadi jemaat yang tahu diri. Jemaat diingatkan agar tidak mengutamakan kepentingan sendiri ataupun mencari pujian yang sia-sia. Mengapa? Setiap anggota jemaat adalah hamba yang harus bekerja untuk menomor satukan kepentingan Kristus dan kemuliaan Kristus.
Disadur dari : Renungan Harian Wasiat (Edisi bulan September 2009)